Rupiah Melemah apakah Ekonomi Indonesia akan Goyah ?

Rupiah Melemah apakah Ekonomi Indonesia akan Goyah ?

Pada minggu akhir Januari 2026 kondisi mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika melemah hampir Rp 17.000 per dolar. Melihat kondisi ini apa yang kita pikirkan ? Pikiran pertama kali yang muncul adalah harga barang terutama kebutuhan pokok ( pangan, sandang, papan ), pikiran ke dua yang muncul adalah ekonomi Indonesia akan di uji sekali lagi seperti peristiwa krisis ekonomi ( krisis moneter ) tahun 1997 - 1998 pasca lengsernya Presiden Soeharto. Atau mungkin ada pikiran pikiran lainnya yang mungkin berbeda ! Silahkan tulis di kolom komentar.

Kurs Rupiah terhadap $ Amerika

Pemikiran pemikiran ini mungkin menjadi pemikiran umum di masyarakat kita saat ini termasuk saya. Pemikiran tersebut saat tulisan ini saya tulis mengalami pergeseran sejak saya menonton sebuah chanel youtube bernama bannix. Saya sangat tertarik mengulas sudut pandang chanel tersebut telah mencerahkan saya. Salah satu videonya berjudul RUPIAH TEMBUS 17.000!! RI DIAMBANG BAHAYA? RENCANA BESAR Prabowo & Purbaya TERUNGKAP!!. Membaca judulnya biasa biasa saja, yang menarik adalah isi materinya. Lihat video disini


Apa yang selama ini diajarkan oleh para guru dan para dosen kita selama ini adalah produk produk kaum misionaris ekonomi yang ingin memperbudak dan menghancurkan bangsa Indonesia secara diam diam. Bagaimana tidak apa yang kita terima dari guru dan dosen kita jika mata uang Rupiah melemah terhadap mata uang asing akan memperburuk kestabilan ekonomi bangsa kita "Indonesia". Ayo ngaku benar atau setuju !

Apa yang sebenarnya terjadi di negara ini selama ini adalah bentukan penjajah yang tidak terlihat. Bangsa Indonesia adalah bangsa konsumer bukan bangsa produsen. Apa yang telah berlangsung di negara Indonesia diarahkan ke untuk pemenuhan kebutuhan yang bergantung pada negara lain yaitu Impor. Apa apa impor mulai kebutuhan dasar untuk hidup, kebutuhan sandang , kebutuhan tempat tinggal hingga kebutuhan sekunder dan tersier sebagian besar adalah produk impor. Kita lebih memilih beli saja daripada berusaha membuat dan menciptakan pemenuhan kebutuhan sendiri alasannya sederhana karena dengan membeli lebih murah biayanya dari pada memproduksi.  Ini yang akhirnya membuat bangsa Indonesia di perbudak bangsa lain, seolah olah bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya karena berduit, sedangkan negara lain adalah miskin karena mereka menjual produknya ke kita, karena dengan impor seolah olah kita adalah raja sejati ( jika diilustrasikan dengan pembeli adalah raja, pembeli mempunyai duit untuk membeli sedang penjual mempunyai barang atau produk). Jika kondisi ini terus berlangsung maka wajar jika mata uang rupiah melemah terhadap mata uang negara lain akan mempengaruhi perekonomian kita, karena untuk membeli barang yang sama dibutuhkan uang yang lebih banyak jika nilai Rupiah melemah. Saya setuju dengan pendapat ini, yang saya tidak setuju adalah otak kita telah di doktrin demikian. Padahal dengan melemahnya mata uang Rupiah juga sebuah kesempatan dan keuntungan besar.  Kok bisa ?

Peluang ini yang membuka sudut pandang baru bagi saya pribadi setelah melihat video dari chanel youtube bannix seperti uraian awal tulisan ini.


Ketika mata uang Rupiah melemah adalah kesempatan dan peluang bagi bangsa Indonesia untuk bangkit menjadi lebih baik dengan catatan kita sudah menjadi produsen. Produk produk yang kita hasilkan dengan bahan baku lokal,. Bagaimana jika bahan bakunya impor ? Maka produk yang dihasilkan tidak maksimal keuntungannya. Saya coba membuat ilustrasi, kita buat produk gerabah, bahan baku dari tanah indonesia, bahan baku untuk membakar gerabah dari sisa sisa tanaman padi yang di produksi di Indonesia ( jerami atau sekam padi ), setelah di olah mengasilkan gerabah yang dijual Rp 17.000 per gerabah. Jika gerabah ini di jual ke Amerika dengan harga yang sama Rp 17.000 per buah, jika kurs 1 dolar amerika ( $1) saat ini sama dengan Rp 17.000,- maka orang Amerika membayar $1 untuk mendapatkan 1 buah gerabah.  Bagaimana jika Kurs   mata uang Rupiah melemah terhadap Dolar Amerika menjadi misalnya Rp 30.000 per $1 Amerika. Bagaimana nasib gerabah yang sama ? Tentu saja orang amerika bisa membeli gerabah tersebut dengan harga tetap $1 per gerabah, lalu berapa nilai gerabah bagi penjual ? Jika Rupiah melemah terhadap $ Amerika seperti ilustrasi diatas ( $1 = Rp 30.000 ), maka bagi penjual harga gerabah yang diterima oleh penjual sebesar  Rp 30.000 per gerabah. Jadi jika Rupiah melemah terhadap dolar Amerika maka nilai barang menurut mata uang Rupiah lebih tinggi dari sebelum penurunan mata uang, sedang bagi konsumen ( pembeli ) produk harganya tetap sesuai kesepakatan yaitu $1.

Kesimpulannya jika orientasi bangsa Indonesia menjadi produsen { eksportir ) maka kondisi pelemahan mata uang rupiah malah membuat harga produk / barang lebih tinggi, berbeda jika orientasi bangsa Indonesia hanya menjadi konsumen ( improtir ) maka pelemahan mata uang Rupiah justru membuat harga produk lebih mahal.


Kondisi ini yang merubah sudut pandang saya terhadap pelemahan nilai mata uang. Kita mau menjadi produsen ( eksportir ) atau hanya sebagai konsumen ( importir ) ?

Di sisi lain dengan penurunan mata uang rupiah terhadap mata uang negara lain justru menambah daya saing produk, harga lebih murah dari produk serupa dari negara lain. Sedangkan jalur produksi tetap dengan catatan tidak ada bahan baku yang impor, jika bahan baku 100% lokal maka jalur produksi tidak akan berpengaruh terhadap pelemahan mata yang Rupiah. Dan jika produk yang dihasilkan di jual ke negara lain nilai barangnya lebih tinggi ( lebih mahal ), dan jika konsumen menggunakan kurs Rupiah yang melemah tentu bagi konsumen harga produk akan lebih murah di banding produk serupa dari negara lain yang mata uangnya menguat.


Strategi tersebut diatas yang dipakai oleh Cina untuk menguasai pasar. Kita merasa produk produk Cina jauh lebih murah di banding produk serupa dari negara lain.

Share on Google Plus

About Restsindo

0 komentar:

Post a Comment